Orang Kristen menolak angka nol; namun pedagang dalam melakukan
transaksi membutuhkan angka nol. Alasan yang dipakai oleh Fibonacci
adalah nol sebagai batas. Apabila diperoleh hasil negatif berarti
kerugian. Orang yang mengenalkan angka nol ini ke dunia Barat adalah
Leonardo dari Pisa. Meskipun ayahnya seorang Konsul sekaligus pedagang,
profesi Fibonacci – tidak mau menjadi konsul, adalah seorang pedagang.
Anak muda – yang lebih dikenal dengan nama Fibonacci – belajar
matematika dari orang-orang Islam dan menjadi matematikawan piawai
dengan cara belajar sendiri. Menemukan deret bilangan yang diberi nama
seperti namanya. Deret Fibbonacci yaitu: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21,
34, 55, 89, 144, 233, 377, 610, 987 …
Pola deret di atas terbentuk dari susunan bilangan berurutan (dari
kecil makin besar) yaitu merupakan penjumlahan dua bilangan sebelumnya.
Angka 3, urutan kelima, adalah hasil penjumlahan 1 (urutan 3) + 2
(urutan 4); angka 5 urutan keenam, adalah hasil penjumlahan 2 (urutan 4)
+ 3 (urutan 5); angka 8 urutan ketujuh, adalah hasil penjumlahan 3
(urutan 5) + 5 (urutan 6) dan seterusnya. Deret di atas mampu menjawab
problem kelinci beranak-pinak, alur bunga lily, pola dan jumlah mata
nanas, jumlah kelopak dan alur spiral bunga jenis-jenis tertentu. Lewat
deret Fibonacci ini dapat diketahui urutan atau alur yang akurat pada
alam. Ukuran ruangan binatang berkulit lunak (moluska) yang berbentuk
spiral, nautilus *; jumlah searah jarum jam atau berlawanan jarum jam
‘mata‘ nanas, jumlah kelopak bunga matahari dan ada 2 alur spiral (ke
kanan 34 dan ke kiri 55) sesuai dengan deret Fibonacci.
The Golden section in architecture
The ancient Greeks knew of a rectangle whose sides are in the golden
proportion (1 : 1.618 which is the same as 0.618 : 1). It occurs naturally
in some of the
proportions of the Five Platonic Solids
(as we have already seen). A construction for the
golden section point is found in
Euclid's Elements.
The golden rectangle is supposed to appear in many of the proportions of that famous
ancient Greek temple, the Parthenon, in the Acropolis in
Athens, Greece but there is no original documentary evidence that this was deliberately
designed in.
(There is a replica of the original building (accurate to one-eighth of an inch!) at
Nashville
which calls itself "The Athens of South USA".)
|
Greek Temples (HC) Stuart Revett Buy This Art Print At AllPosters.com |
|
The Acropolis (see a plan diagram or Roy George's plan of the Parthenon with active spots to click on to view photographs), in the centre of Athens, is an outcrop of rock that dominates the ancient city. Its most famous monument is the Parthenon, a temple to the goddess Athena built around 430 or 440 BC. It is largely in ruins but is now undergoing some restoration (see the photos at Roy George's site in the link above).
Again there are no original plans of the Parthenon itself. It appears to be built on a design of golden rectangles and root-5 rectangles:
- the front view (see diagram above): a golden rectangle, Phi times as wide as it is high
- the plan view:
5 as long as the front is wide so the floor area is a square-root-of-5 rectangle
| The Panthenon image here shows clear golden sections in the placing of the three horizontal lines but the overall shape and the other prominent features are not golden section ratios. |
Pantheon, Libero Patrignani |
Sidik Jari Tuhan
wisnuprayudha
“Sidik Jari Tuhan itu ternyata memang ada ya”. Katanya, terdengar haru karena bahagia di telepon.
Dia
pernah mendengarkan pernyataan ini di acara saya di radio Pesona FM.
Dalam pengalamannya di Masjidil Haram, Mekkah itu, katanya, semua
kejadian di masa lalu yang disembunyikan rapat-rapat selama ini tak
kuasa ia sembunyikan lagi. Semuan terbuka, menganga lebar dan dihadirkan
di hadapannya.
“Apa
yang bisa kita sembunyikan di kediaman-Nya. Semua yang saya sembunyikan
itu merupakan keburukan yang datang dari saya. Saya yang membuatnya.
Saya tahu sekarang, Wis. Semua perbuatan baikku yang sesungguhnya
merupakan Sidik Jari Tuhan. Ini yang harus saya besarkan. Saya melihat
diri saya adalah yang ini, yang Sidik Jari Tuhan ini. Bukan sidik jari yang saya sembunyikan itu. Saya kok kerdil sekali....“
Ahaa....!!
Senang juga, mengetahui kawan menemukan keistimewaan menyangkut rahasia
dirinya. Kebaikan yang ditinggalkan dalam jejak-jejak kehidupannya.
Menemukan Sidik Jari Tuhan dalam
dirinya. Sidik jari, dalam pemahaman saya, jejak yang kita tinggalkan
di suatu tempat dalam sebuah momen kehidupan. Tak
ada cara yang bisa kita pakai untuk menghapus setiap jejak-jejak yang
kita tinggalkan itu. Jejak itu bahkan melekat dengan diri kita. Jejak
fisiknya boleh terhapus. Tapi tidak dalam memori nurani kita. Dan tidak
juga bagi dunia. Ia akan tercatat sebagai sejarah yang kita ukir tentang
diri kita, bagi dunia. Kemana pun kita pergi, ia selalu kita bawa.
Itulah agaknya, menurut Gede Prama, sahabat yang kerap saya ajak ngobrol
di radio pesona FM, beberapa kali menggunakan istilah ini dalam
kaitannya dengan pencarian cinta diri kita secara spiritual. Carilah
Sidik Jari Tuhan dalam setiap perbuatan kita. Agar jejak yang kita
tinggalkan memantulkan kebaikan bagi dunia.
Sekedar
perbandingan. Dalam kriminilogi, istilah ini rupanya digunakan untuk
menelusuri jejak siapa pelaku sebuah perbuatan. Bedanya, dalam
spiritual, istilah ini digunakan untuk menegaskan bahwa setiap perbuatan
yang kita lakukan tak bisa lekang dari pantauan Tuhan. Kalau kriminolog
menggunakannya sebagai alat bukti bahwa kitalah pelakunya. Maka
spiritualis menggunakannya untuk kita “menangkap” siapa diri
kita dalam momen-momen kejadian yang pernah kita lewati itu. Tidak akan
pernah bisa kita bersembunyi dari jejak kita sendiri.
Tak
ada perbuatan yang tidak diketahui Tuhan. Itulah sebabnya, selalau ada
ada Sidik Jari Tuhan dalam setiap momen yang kita lalui dalam kehidupan.
Bahwa Tuhan itu terasa hadir atau tidak, tergantung bagaimana kita
memaknai setiap momen-momen itu. Dalam Islam, orang-orang yang paham
betul sistem kerja Sidik Jari Tuhan ini disebut orang-orang Muhsinin.
Mereka tahu betul hukum kerja Sidik Jari Tuhan ini. Bahwa mereka tidak
bisa melihat Tuhan itu bukan lagi yang mereka soalkan. Tuhan melihat
mereka dan tidak merasa diawasi-Nya, itu yang terpenting. Karena orang yang ihsan biasanya kesadaran spiritualnya mengawasi dirinya sendiri. Itu hebatnya. Sehingga yang mereka ukir dalam kehidupan adalah Sidik Jari Tuhan berupa kebaikan bagi dunia.
Anda
termasuk orang yang seringkali dipuji dan dimuliakan?. Berbahagialah
karena Anda memiliki Sidik Jari Tuhan yang, menurut manusia, pantas
dimuliakan. Kebaikan Anda telah menjadi sidik jari itu. Dan diri Anda
adalah kebaikan itu. Tapi ingatlah, kata Sufi Syeik Athailah As-Sakandari dalam salah satu buku terpopulernya al-Hikam,
bahwa ketika orang memuliakan Anda sebenarnya mereka tengah memuji
kerapihan cara Tuhan menutupi kelemahan dan kejelekan Anda. Seandainya
orang mengetahui kejelekan Anda, tentu saja, mereka tidak akan mau
memuliakan Anda. Hanya Tuhanlah yang memuliakan Anda, meski Anda masih
menyimpan sejumlah kejelekan yang Anda rahasiakan.
Maka
tinggalkanlah Sidik Jari Tuhan dalam setiap peristiwa di mana kita
terlibat di dalamnya. Di mana saja, kapan saja. Kita berbuat baik karena
Tuhan. Karena Sidik Jari-Nya. Karena ingin dimuliakan-Nya. Bukan karena
manusia dan apalagi untuk sekedar dimuliakan manusia.*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar